Pesawat N250 dari PTDI, Mimpi Anak Bangsa yang Hilang!

Sambungan dari cerita Bj. habibie tentang N250 ada cerita dari sumber lain berikut infonya :

Mendengar terjadinya kecelakaan pesawat terbang MA60 milik Merpati, saya teringat pada dua hal sekaligus, yaitu PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan PT Merpati Nusantara Airlines. Kebetulan saya pernah bekerja didua tempat tersebut. PTDI (waktu masih bernama PT IPTN, atau Industri Pesawat Terbang Nusantara) merupakan awal karir saya selepas kuliah, tidak lama memang, hanya 6 bulan. Setelah di PTDI, saya bekerja di Merpati, selama 8 tahun. Dan kaitannya dengan pesawat MA60, karena PTDI pernah merancang pesawat sekelas dengan MA60 yang dinamakan pesawat N250. Pesawat N250 dihentikan proyeknya atas desakan dari IMF pada waktu krisis moneter.

Pada waktu saya bekerja di PTDI (awal 1997), saya bekerja di Aircraft System DesignDepartment, di bagian Nacelle Design. Pada saat itu, sedang gencar-gencarnya dilaksanakan proyek pembuatan pesawat N250. Terbang perdana pesawat N250 adalah pada tanggal 10 Agustus 1995. Dan dimaksudkan sebagai kado atas ulang tahun emas Indonesia pada hari kemerdekaan yang ke 50 tanggal 17 Agustus 1995. Kemudian, tanggal 10 Agustus ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Teknologi Nasional, yang merupakan kebangkitan kedua Bangsa Indonesia, setelah 20 Mei 1908 yang merupakan berdirinya organisasi Budi Utomo yang memperjuangkan Indonesia dari buta huruf, dan diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Prototipe pesawat N250 sendiri pernah terbang menuju Le Bourget Perancis untuk mengikuti Paris Air Show. Penampilan perdana pesawat N250 tersebut menggetarkan lawan-lawannya, karena merupakan pesawat yang menggunakan teknologi fly by wire yang pertama dikelasnya. Pada saat tersebut (dan juga sekarang) pesawat sekelas adalah ATR 42 yang merupakan produksi pabrik pesawat Prancis ATR, Fokker F50, produksi pabrik pesawat Fokker Belanda dan Dash 8, produksi pabrik pesawat De Havilland (sekarang Bombardier) dari Kanada.

Pesawat N250 murni merupakan rancang bangun anak bangsa. Setelah melewati fase-fase yang panjang sejak didirikannya tahun 1976, PTDI awalnya membuat pesawat dan helikopter dengan lisensi dari perusahaan pesawat lainnya. Pesawat C212 merupakan pesawat lisensi dari Casa Spanyol yang juga di buat di PTDI, kemudian pengembangan dari pesawat tersebut adalah NC212. Tahapan berikutnya adalah memproduksi pesawat komersial yang lebih besar yang rancang bangunnya kerjasama dengan Casa Spanyol yaitu pesawat CN-235 (bermesin 2 dan berpenumpang 35). Pesawat CN235 diberi nama Tetuko, tokoh dalam pewayangan.

Dan tahapan berikutnya adalah pesawat terbang N250 Gatot Koco yang murni merupakan rancang bangun dari PTDI. Pesawat N250 dirancang mempunyai kapasitas penumpang 50 orang. Kapasitas penumpang berkisar 50 memang diprediksi akan menguasai pangsa pasar pesawat komersial. Diprediksi waktu itu, kebutuhan pasar atas pesawat komersial antara 2000 – 2020 sekitar 8000 pesawat, dan diperkirakan 45% adalah pesawat sekelas N250.

Pantas saja IMF memasukkan persyaratan penghentian proyek N250 dalam Letter of Intent-nya. Pesawat N250 kehadirannya sangat mengkhawatirkan pesaingnya. Dan pesaing pesawat N250 adalah produksi Eropa, Seperti ATR Perancis, Fokker (yang sudah tidak berproduksi lagi) Belanda dan Dehavilland dari Kanada yang semuanya merupakan negara maju Eropa.

IMF merupakan lembaga keuangan dunia yang dalam kebijakannya cenderung memproteksi negara maju. Secara tradisi, pimpinan IMF selalu berasal dari Eropa, sedangkan untuk World Bank berasal dari Amerika. Ada pengkaplingan yang jelas antara Eropa dan Amerika dalam berbagi tugas. Eropa dan Amerika merupakan negara maju yang membutuhkan pasar untuk produksinya, karena pasar dalam negerinya yang sudah jenuh. Dan pasar itu ada di negara berkembang seperti Indonesia. Untuk itu mereka berkepentingan agar ketergantungan dari negara berkembang terus berlanjut.

Sedangkan Pesawat MA60, yang merupakan pesawat sekelas N250, baru diproduksi secara komersial pada tahun 2000. Dan pesawat tersebut hanya lolos dari sertifikasi otoritas penerbangan China (Civil Aviation Administration of China). Karena hanya mengantongi sertifikasi dari negaranya sendiri China, maka pesawat ini pernah ditolak masuk Indonesia pada waktu Wapres Jusuf Kalla. Sedangkan pesawat N250, pada saat dihentikan proyeknya, adalah dalam proses pembuatan prototipe yang ke 2 dari 4 prototipe yang harus dibangun sebagai persyaratan untuk melewati sertifikasi FAA yang terkenal sangat ketat.

FAA (Federal Aviation Administration) merupakan otoritas penerbangan Amerika yang merupakan kiblat dari otoritas penerbangan dunia dan juga merupakan otoritas penerbangan tertua di dunia. Selain FAA, otoritas penerbangan yang kredibel lainnya adalah JAA (Joint Aviation Authorities), yang merupakan otoritas penerbangan Uni Eropa.

Kecelakaan pesawat MA60 Merpati merupakan kecelakaan terparah dari pesawat ini yang sampai mengakibatkan 27 korban meninggal. Beberapa kecelakaan seperti tergelincir ataupun overshot (keluar jalur) waktu lepas landas juga pernah dialami dibeberapa airlines. Selain Indonesia, pesawat MA60 juga dipakai dibeberapa negara dunia ketiga yaitu Kongo, Bolivia, Equador, Ghana, Laos, Myanmar dan Srilanka. Merpati sendiri merupakan operator penerbangan yang terbanyak menggunakan MA60 sebanyak 12 pesawat, mengalahkan China sendiri. Jumlah pesawat MA60 yang diproduksi baru mencapai 41 buah (data sampai April 2010).

Sebagai perbandingan, walaupun tidak sejenis dengan pesawat MA60, pesawat CN-235 (kapasitas 35 penumpang) yang diproduksi PTDI lebih banyak dipakai dinegara lain seperti Venezuela, Korea, Malaysia, Pakistan, Uni Emirat Arab, Philipina, Turki, Papua Nugini, Thailand dan Senegal. Selain untuk komersial, pesawat ini juga ada dalam versi Military dan Maritime. Bahkan Korea, Malaysia, Pakistan, UAE dan Senegal memakainya untuk pesawat VIP. Sedangkan produksi CN235 Spanyol telah banyak dipakai di negara Eropa dan juga Amerika.

Seandainya proyek N250 terus berlanjut dengan dukungan seluruh rakyat Indonesia, tentunya Indonesia telah menjadi negara yang disegani dalam industri dirgantara, tidak seperti sekarang yang mengemis teknologi dan menjadi percobaan negara lain karena mencari produk yang murah.

Semoga kecelakaan pesawat MA60 dapat menjadi cerminan untuk insan penerbangan Indonesia, dan menjadi dorongan untuk kemajuan industri dirgantara.

Ingat sekali, ketika masa kecil, berhamburan keluar begitu mendengar suara pesawat sambil berteriak ’…kapal terbang, minta uangnya!’. Dan seandainya langit Indonesia dipenuhi dengan pesawat buatan bangsa Indonesia sendiri, hmmm…

Pesawat N250, mimpi anak bangsa yang hilang!

Andai waktu itu kita mempunyai pemimpin yang idealis pasti sekarang ini kita mempunyai tempat Produksi pesawat yang bisa mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer.

sumber : http://ahmadramadlan.wordpress.com/2011/05/09/pesawat-n250-dari-ptdi-mimpi-anak-bangsa-yang-hilang/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s