ASPEK-ASPEK KEBUDAYAAN BANGSA ARAB

Asal Mula Kawasan Budaya Arab

Kawasan budaya Arab pertama kali ialah wilayah yang meliputi Jazirah Arabia, ketika Islam datang dan menyebar ke wilayah sekitarnya, maka terislamkanlah wilayah sekitar tersebut dan terarabkan sebagai konsekuensi logis dari Islam yang dibawa oleh bangsa Arab. Dengan demikian jadilah Mesir dan Afrika Utara berbudaya Arab, demikian pula Irak yang dahulunya dalam pengaruh Persia dan Syria yang berkebudayaan Byzantium, Bila disebut kawasan kebudayaan Arab  maka paling tidak saat ini meliputi wilayah Timur Tengah, Bulan Sabit Subur, Teluk Persia, dan Afrika Utara.

 

Sebelum membicarakan panjang lebar tentang wilayah tersebut haruslah diketahui terlebih dahulu apa yang disebut sebagai kawasan kebudayaan Arab dengan ciri-ciri khas yang membedakan wilayah yang lain. Budaya merupakan daya atau potensi dari cipta, karsa dan rasa manusia yang ada di kawasan tertentu. Dengan demikian, maka budaya Arab ialah potensi yang ada pada manusia yang akan mencipta dan berkehendak serta cara merasa yang didominasi nuansa Arab. Ciri-cirinya antara lain ialah penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar daam pergaulan hidup sehari-hari dan bahasa ilmiah sebagai bahasa ilmu pengetahuan.

Walau demikian bahasa ini akan dipengaruhi lokasi tempat tinggal yang berdiam warganya di suatu tempat itu dalam jangka lama sehingga membedakan antara bahasa Arab Saudi dengan Mesir atau Afrika Utara. Ciri yang lain ialah digunakannya bahasa Arab itu oleh mayoritas kaum muslimin, memang bahasa kitab mereka adalah bahasa Arab. Dalam hal ini mereka yang beragama selain Islam pun memakai bahasa Arab bila mereka berdiam di kawasan berbahasa Arab, seperti orang-orang Aran Lebanon yang beragama Kristen. Demikian pula kita yang berada di kawasan Nusantara, berbudaya Melayu bukan berbudaya Arab walau orang-orang melayu beragama Islam.

Dari segi fisik, mereka juga mempunyai ciri-ciri khusus. Orang-orang berasal dari kawasan kebudayaan arab mempunyai postur tubuh tegap, besar, tinggi, berambut keriting dan berhidung mancung. Kondisi geografis mereka juga membedakan dengan letak wilayah yang lain yang mempunyai ciri khas tertentu dengan segala tumbuhan atau binatang yang hidup di kawasan tersebut. Seperti lingkungan paang pasir yang luas, sedikit curah hujan, banyak gunung berbatu dan kandungan mineral yang hampir sama di wilayah tersebut, yang akhir-akhir ini banyak ditemukan cadangan minyak bumi yang melimpah.

Proses Arabisasi

Kawasan berbudaya Arab sebelumnya terdiri dari banyak budaya dan etnis Barbar di Afrika Utara, Persia di Irak dan budaya Suryani di Syria. Pada saat tersebarnya Islam ke kawasan tersebut maka di samping mereka menjadi Islam juga menjadi berbudaya Arab karena Islam berbasis pada bahasa Arab sebagaimana terlihat dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits Nabi Muhammad Saw. Kawasan Syam yakni Syria, Palestina, Yordania, sekarang ini menjadi Islam sejak masa Khulafaurrasyidin. Bahkan Irak yang berbudaya Pada saat itu telah pula diislamkan, demikian juga Mesir, sedangkan Afrika Utara diislamkan secara intensif di masa Daulah Bani Umayah, bahkan Islam berhasil melangkah ke Spanyol, dan terarabkanlah budaya di sana.

Di kawasan berkebudayaan Arab tersebut silih berganti berkuasa para raja, khalifah dan presiden di masa modern ini. Mereka itu mayoritas pada saat sekarang ini beragama Islam dan memakai bahasa Arab, serta masuk ke dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI). Mereka juga mayoritas menjadi negara pengekspor minyak, walau tidak semua negara itu masuk ke dalam organisasi pengekspor minyak (OPEC/Organization of Petroleum Eksporting Countries). Dalam abad ke dua puluh ini mereka juga menghadapi problem yang hampir sama, yakni melepaskan diri dari dominasi kekuasaan asing. Barat, dan menghadapi musuh bersama, yakni bercokolnya negara Yahudi Israel.

Kawasan Budaya Arab Modern

Timur Tengah, menurut Peretz adalah wilayah yang meliputi Turki, Iran, Israel, Lebanon, Irak, Yordania, Syria, Mesir, dan kerajaan-kerajaan yang ada di kawasan Teluk Persia.

Kawasan budaya Arab terdiri dari Timur Tengah dan Afrika Utara, meliputi Maroko, Aljazair, Tunisia dan Lybia. Walaupun Mesir terletak di Afrika Utara tetapi sejak dahulu negeri Lembah Nil itu tidak mau dimasukkan ke wilayah Afrika Utara, karena mempunyai perkembangan budaya dan peradabannya sendiri sejak zaman Fir’aun, jauh sebelum permulaan abad Masehi.

Asal Usul Bangsa Arab

Bangsa Arab mempunyai akar panjang dalam sejarah, mereka termasuk ras atau rumpun bangsa Caucasoid, dalam sub ras Mediteranean yang anggotanya meliputi wilayah sekitar Laut Tengah, Afrika Utara, Armenia, Arabia dan Irania.

Bangsa Arab hidup berpindah-pindah, karena tanahnya terdiri dari gurun pasir yang kering dan sangat sedikit sekali turun hujan. Perpindahan mereka dari satu tempat ke tempat yang lain itu mengikuti tumbuhnya stepa atau padang rumput yang tumbuh secara sporadis di tanah Arab sekitar oasis atau genangan air setelah turun hujan. Padang rumput diperlukan oleh bangsa Arab yang disebut juga bangsa Badawi, Badawah, Badui, guna mengembalakan ternak mereka yang berupa domba dan unta serta kuda, sebagai binatang unggulannya.

Mereka mendiami wilayah jazirah Arabia yang dahulu merupakan sambungan dari wilayah gurun yang membentang dari Barat, Sahara di Afrika hingga ke Timur melintasi Asia, Iran Tengah dan Gurun Gobi di Cina. Wilayah itu sangat kering dan panas karena uap air laut yang ada di sekitarnya (Laut Merah, Lautan Hindia dan Laut Arab) tidak memenuhi kebutuhan untuk mendinginkan daratan luas yang berbatu itu. Penduduk Arab tinggal di kemah-kemah dan hidup berburu untuk mencari nafkah, bukan bertani dan berdagang yang tidak diyakini sebagai kehormatan bagi mereka, memang negeri itu susah untuk ditanami.

Bangsa Arab terdiri dari berbagai suku bangsa yang tersebar di seluruh Jazirah Arabia. Mereka kebanyakan mendiami wilayah pinggiran Jazirah, dan sedikit yang tinggal di pedalaman. Pada masa dahulu tanah Arab itu dapat dibagi menjadi tiga bagian.

1.      Arab Petrix atau Petraea, yakni wilayah yang terletak di sebelah Barat Daya Gurun Syria, dengan Petra sebagai pusatnya.

2.      Arab Diserta atau Gurun Syria, yang kemudian dipakai untuk menyebut seluruh Jazirah Arab karena tanahnya tidak subur.

3.      Arab Felix, wilayah hijau (Green Land) atau wilayah yang berbahagia (Happy Land), yakni wilayah Yaman yang memiliki kebudayaan maju dengan kerajaan Saba’ dan Ma’in.

Bangsa Arab itu dibagi kepada dua, yakni Qahtan dan Adnan. Qahtan semula berdiam di Yaman, namun setelah hancurnya bendungan Ma’rib sekitar tahun 120 SM, mereka berimigrasi ke Utara dan mendirikan kerajaan Hirah dan Gassan. Sedangkan Adnan adalah keturunan Ismail Ibn Ibrahim yang banyak mendiami Arabia dan Hijaz.

Bangsa Arab telah dapat mendirikan kerajaan, di antaranya ialah Saba’, Ma’in dan Qutban serta Himyar, semuanya di Yaman. Di Utara Jazirah berdiri kerajaan Hirah (Manadirah) dan Gassan (Gassasinah). Hijaz menunjukkan wilayah yang tetap merdeka sejak dahulu karena miskin daerahnya, namun terdapat tempat suci, yakni Mekkah yang di dalamnya berdiri Ka’bah sebagai pusat beribadah sejak dahulu, di samping itu ada sumur Zamzam yang ada sejak Nabi Ismail. Di kawasan itu juga terdapat Yasrib yang merupakan daerah subur sejak dahulu.

Mekkah selalu ramai didatangi oleh para peziarah haji pada bulan-bulan haji. Sudah ada pengaturan kekuasaan di Mekkah sejak dahulu. Suku Amaliqah adalah yang paling berkuasa di sana sebelum lahirnya Ismail. Kemudian datang suku Jurhum ke Mekkah dan datang menggeser kedudukan Amaliqah. Ketika Jurhum berkuasa itu lahirlah Ismail lalu kawin dengan anggota suku tersebut. Cukup lama Jurhum menguasai Mekkah, yang nantinya oleh suku Khuza’ah pada tahun 207 SM. Di bawah pimpinan Qusai. Ialah yang mengatur urusan yang berkenaan dengan Ka’bah. Ia meninggal dunia tahun 480 M. dan diganti oleh kakaknya, Abdul Dar. Tetapi sepeninggal Abdul Dar terjadi perselisihan antara cucu-cucu Qusai dan anak-anak saudaranya, Abdul Manaf. Mengenai sipakah yang berhak mewarisi kekuasaan atas Mekkah.

Pertentangan itu diselesaikan dengan membagi kekuasaan, yakni pengaturan air dan pajak atas Mekkah diserahkan kepada Abdus Syam, penjagaan Ka’bah diserahkan kepada cucu-cucu Abdul Dar. Sedangkan Abdus Syam menyerahkan lagi urusannya kepada saudaranya yang bernama Hasyim. Tetapi anak Abdus Syam Umaiyah, berlaku sombong memusuhi pamannya sendiri Hasyim. Urusan-urusan itu akhirnya dipegang oleh anak Hasyim, Abdul Mutalib, kakek Nabi Muhammad Saw. Ia merupakan orang yang terhormat, bijaksana, dalam memegang tampuk pemerintahan atas Mekkah sehingga dapat bertahan sampai 59 tahun memerintah kota itu. Ia mempunyai banyak anak dan diantaranya anak-anaknya itu ialah Abdullah, ayah Muhammad Saw.

Haruslah kita ketahui walaupun agak sedikit keadaan bangsa Arab sebelum datang agama Islam karena bangsa Arablah bangsa yang mula-mula menerima agama Islam. Sebelum datang Islam mereka mempunyai berbagai macam agama, adat istiadat, akhlak dan peraturan-peraturan hidup. Agama baru ini pun datang membawa akhlak hukum-hukum dan peraturan baru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s